STRATEGI PENGAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS – Setiap anak berhak mendapatkan maxbet pendidikan, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mengajar anak berkebutuhan khusus tidak hanya memerlukan kesabaran, namun juga strategi agar mereka merasa nyaman dan mampu memperoleh informasi yang benar.

Strategi-strategi di bawah ini perlu dikuasai oleh guru di sekolah dan orang tua di rumah. Tujuannya agar anak mendapat pelajaran atau menguasai suatu kemampuan baru. Simak triknya di bawah ini!

Interaksi

Banyak orang yang salah dalam memulai interaksi dengan anak berkebutuhan khusus. Biasanya mereka memulai interaksi dengan pertanyaan, kemudian anak enggan menjawab, dan masyarakat menyerah dan akhirnya berbicara kepada orang tuanya.

Baca juga: Tiga Pembelajaran Tentang Mendorong Inklusi, Pemberdayaan, dan Lapangan kerja melalui kreativitas

Jika ingin mendidik anak berkebutuhan khusus, gunakanlah kaidah pengenalan yang baik. Pertama, perkenalkan diri Anda dan jelaskan bagaimana perasaan Anda terhadap anak tersebut. Anda bisa mulai meminta jabat tangan dengan menyentuh tangan, bahu, atau wajahnya. Perlu diketahui, tidak semua anak suka disentuh, misalnya anak autis.

Anda juga bisa menjelaskan kegiatan apa saja yang akan Anda lakukan bersama anak Anda, dari awal hingga akhir, sambil menatap mata anak.

Pengamatan

Beberapa anak berkebutuhan khusus menerima masukan sensorik dengan cara yang berbeda dan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ketidaknyamanannya. Ingatlah bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Selalu lihat sesuatu yang berbeda dan pikirkan jika anak mencoba berkomunikasi dengan Anda. Jika kurang yakin, Anda bisa bertanya kepada orang tuanya atau orang tua lainnya.

Lingkungan belajar yang aman

Tingkah laku anak berkebutuhan khusus terkadang tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, penting untuk mengutamakan keselamatan dan menata lingkungan agar nyaman secara fisik dan emosional.

Lebih fleksibel

Mengajar anak berkebutuhan khusus harus menggunakan berbagai metode agar anak memahami dan menguasai keterampilan baru. Misalnya, jika seorang anak menolak berpisah dengan orang tuanya, lalu meminta orang tuanya untuk menemaninya selama beberapa menit untuk mengurangi kecemasan anak, maka orang tua tersebut mungkin akan mundur secara perlahan.

Contoh lain adalah anak berkebutuhan khusus akan kesulitan memahami konsep-konsep abstrak dalam pelajaran agama. Tugas Anda adalah mengubah pelajaran menjadi permainan atau proyek seni agar masuk akal.

Harus konsisten

Jika ada aturan dalam suatu kelompok, maka aturan tersebut harus diterapkan secara konsisten kepada semua orang. Misalnya, jika Anda memiliki tujuan dan jadwal belajar, setiap orang dalam kelompok harus menaatinya. Bedanya, anak berkebutuhan khusus membutuhkan dukungan ekstra atau guru pendamping yang mendampinginya.

Sama halnya dengan hukuman. Misalnya Anda menerapkan hukuman bahwa anak yang memukul harus keluar kelas untuk menenangkan diri. Kemudian aturan tersebut Anda terapkan pada anak biasa atau anak berkebutuhan khusus.

Gunakan isyarat visual, pendengaran, atau sentuhan

Memiliki isyarat yang tepat dalam suatu lingkungan dapat memberikan dampak positif pada anak berkebutuhan khusus. Anda dapat menggunakan kartu dengan instruksi tertulis sederhana untuk membantu anak Anda mengingat aturan perilaku yang baik. Jika anak Anda tidak bisa membaca, maka gunakanlah gambar.

Contoh lain adalah alih-alih berteriak untuk membungkam sekelompok anak, gunakan siulan atau tepuk tangan untuk menarik perhatian mereka.

Sementara itu, isyarat sentuhan seperti menyentuh lembut bahu atau menawarkan selimut dan kain lembut lainnya merupakan cara mudah untuk menarik perhatian seseorang. Anda tidak perlu mendorong atau menarik anak Anda dengan keras.

Jadilah guru yang positif

Perilaku positif merupakan kualitas terpenting yang harus dimiliki oleh orang yang mendidik anak berkebutuhan khusus. Sekalipun Anda memiliki banyak pengalaman, akan sulit bagi Anda untuk berinteraksi dengan anak penyandang disabilitas jika Anda memiliki sikap dan asumsi yang negatif.

Mengajar anak berkebutuhan khusus tidak bisa dilakukan sendirian, perlu peran keluarga dan kerjasama yang kuat dengan guru. Agar anak tidak bingung, pastikan semua orang berkomunikasi untuk menerapkan strategi yang sama.